Majalah Suara Harapan – Gelombang semangat baru menyapu deretan sekolah di Kabupaten Rote Ndao. Melalui gerakan kolaboratif “Mai Fali E” dalam Program Rote Mengajar 2026, sebanyak 206 relawan dari berbagai penjuru daerah hingga mancanegara berkumpul membawa satu misi sederhana namun berdampak panjang: Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi.
Kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Agustus 2026 ini dibuka langsung oleh Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, SH, di Aula Rumah Jabatan Bupati setelah penyambutan hangat di Pelabuhan Syahbandar Ba’a. Program ini menjadi wujud nyata pemenuhan pilar Mbule Lua (“Rote Ndao Cerdas”) dalam kerangka besar Mbule Sio untuk meningkatkan mutu serta karakter pendidikan daerah.
Gerakan ini berhasil menyatukan 172 relawan pengajar dan 34 relawan dokumentasi dari beragam latar belakang profesi mulai dari akademisi, ASN, TNI/Polri, tenaga kesehatan, hingga wirausahawan. Kebersamaan lintas batas ini terlihat nyata dari asal para relawan:
73 orang lokal Rote Ndao
119 orang dari Kupang dan sekitarnya
14 orang dari luar NTT hingga Malaysia
“Ada yang datang dari dekat, ada yang harus menyeberangi pulau, bahkan melintasi batas negara. Namun kepedulian dan keinginan memberikan sesuatu bagi masa depan anak-anak Rote Ndao-lah yang mempertemukan kita hari ini,” ungkap Bupati Paulus Henuk penuh haru saat memberikan sambutan.
Menjangkau 34 sekolah (SD, SMP, dan SMA) di 10 kecamatan, para relawan tidak sekadar mentransfer ilmu dari buku teks. Mereka membakar motivasi siswa, mengenalkan beragam profesi, dan membuka cakrawala masa depan melalui tiga pilar kegiatan utama:
Kelas Inspirasi: Wadah interaktif bagi siswa untuk mengenal berbagai profesi dan merajut cita-cita.
Parenting Session: Ruang diskusi bersama orang tua untuk memperkuat fondasi pendidikan dari rumah.
Dialog Kebangsaan: Sesi pemupukan rasa cinta tanah air dan nilai-nilai persatuan bagi generasi muda.
Semangat Mai Fali E (Mari Kembali) kini bukan sekadar slogan, melainkan panggilan jiwa bagi siapa saja untuk kembali dan berkontribusi.
Langkah kecil para relawan selama tiga hari ini menjadi bukti bahwa pendidikan Rote Ndao tidak dibangun sendirian, melainkan lewat tangan-tangan yang peduli pada masa depan anak bangsa.


































