Majalah Suara Harapan — Riuh rendah suara mahasiswa perlahan menyusut menjadi keheningan yang khusyuk ketika sebuah pesan tegas menggema di salah satu ruang pertemuan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur.
Di hadapan ratusan pasang mata generasi Z dan milenial, sebuah refleksi besar tentang masa depan bangsa diletakkan di atas meja diskusi. Bukan sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai pemantik keberanian untuk berpikir.
Pengetahuan berkembang karena diskusi yang kritis. Kalau tidak boleh dipertanyakan, itu dogma. Demokrasi membutuhkan anak muda yang berani berpikir dan berpartisipasi, kutip redaksi Majalah Suara Harapan, menegaskan esensi mendasar dari sebuah negara merdeka.
Di mimbar itu, politisi senior Viktor Laiskodat membawa narasi yang tidak biasa. Di tengah skeptisisme akut generasi muda terhadap dunia politik yang kerap dianggap kotor dan transaksional, ia justru menantang mereka untuk mendekat, bukan menjauh.
Masa depan demokrasi Indonesia, pada kenyataannya, tidak pernah lahir dari ruang-ruang hampa udara di gedung parlemen yang megah. Ia tumbuh subur di tempat-tempat yang mungkin terasa sederhana namun sakral: di ruang-ruang kelas, di selasar forum diskusi kampus, dan di dalam dada anak-anak muda yang menolak untuk sekadar menjadi penonton pasif.
Melihat antusiasme mahasiswa di Malang, ada keyakinan baru yang membuncah. Bangsa ini tidak akan pernah kehilangan arah, selama generasi mudanya masih memiliki kepedulian dan menolak untuk melipat tangan.
Menjelang Pemilu 2029, lanskap politik Indonesia dipastikan akan berubah total. Gen Z dan milenial bukan lagi sekadar pelengkap ornamen pesta demokrasi atau komoditas pengumpul suara (vote-getter). Mereka adalah gelombang utama. Jumlah mereka sangat besar, dan jemari mereka di bilik suara kelak yang akan melukis wajah Indonesia di masa depan.
Kalau ada politisi yang mengecewakan rakyat, gantilah orangnya. Kritiklah dengan keberanian. Tetapi jangan meninggalkan demokrasi. Negara ini membutuhkan generasi yang mau terlibat, mau berdiskusi, dan mau menjaga harapan bersama, tegas Viktor Laiskodat.
Pesan ini menjadi tamparan keras sekaligus seruan moral. Kecewa pada figur politisi adalah hal yang wajar, namun mencampakkan sistem demokrasi adalah sebuah kekeliruan fatal. Jika anak-anak muda memilih abai dan menjauh, maka ruang-ruang keputusan publik yang menentukan hajat hidup orang banyak akan diisi oleh orang-orang yang salah.
Keberanian Moral di Atas Kepentingan Politik
Demokrasi yang sehat juga menuntut standar moral yang tinggi dari para pelakunya. Politik sejati harus memiliki nyali untuk mengambil keputusan besar demi bangsa, bahkan ketika keputusan tersebut terasa pahit dan berisiko merugikan partai sendiri. Kepentingan Indonesia harus tetap diletakkan di koordinat tertinggi, di atas segalanya.
Negeri kepulauan yang membentang luas ini adalah raksasa dengan potensi yang luar biasa. Namun, potensi itu akan tetap terkubur jika tidak dikelola oleh generasi yang cerdas, kritis, dan berani bermimpi besar untuk bangsanya sendiri.
Ketika diskusi usai dan lampu-lampu aula mulai padam, percikan api itu telah berpindah. Masa depan tidak lagi dinantikan dengan cemas, melainkan dijemput dengan kesiapan pikiran. Di tangan anak-anak muda yang berani mempertanyakan dogma itulah, harapan bersama bagi Indonesia yang lebih baik akan tetap terjaga.

































