Kepedihan tergambar jelas di wajah para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Kupang. Bukan bencana alam atau tragedi yang menimpa, melainkan nestapa tak cairnya Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) selama enam bulan. Janji manis pemenuhan penuh di awal tahun berubah menjadi kegetiran di penghujung 2023.
Keputusan ini, meski dijelaskan dengan dalih keterbatasan Pendapatan Asli Daerah (PAD), menyayat hati. Para ASN, tulang punggung birokrasi, digantung harapannya akibat ketidakmampuan mengoptimalkan sumber keuangan daerah. Ini bukan sekadar soal uang, tapi tamparan kehormatan dan pukulan telak bagi semangat pengabdian mereka.
Kita maklumi, PAD tak tercapai sepenuhnya bisa jadi akibat faktor eksternal dan keadaan momentum ekonomi yang tidak ideal. Namun, di sinilah letak ujian kepemimpinan. Alih-alih berdiam pasrah, pemimpin dituntut beraksi, bukan sekadar memberi penjelasan.
Langkah kongkret dibutuhkan, bukan sekadar retorika. Evaluasi menyeluruh terhadap sektor-sektor penghasil PAD harus dilakukan. Potensi pariwisata, pertanian, dan perikanan yang melimpah tak boleh lagi menjadi sekadar slogan. Eksekusi, inovasi, dan terobosan kebijakan adalah jawaban, bukan keluhan.
Janganlah biarkan janji manis berubah jadi racun pahit. Ini bukan sekadar masalah finansial, tapi soal mengembalikan kepercayaan dan martabat para ASN. Mereka garda terdepan pelayanan publik, bukan pion yang dikorbankan di altar ketidakbecusan mengelola keuangan.
Kepada para ASN, tetaplah teguh. Nestapa ini semestinya menjadi api semangat, bukan abu keputusasaan. Tuntutlah transparansi, desaklah solusi, dan ingatkan bahwa kalianlah wajah Kabupaten Kupang dalam melayani masyarakat.
Bupati dan jajarannya, waktu tak lagi berpihak. Ini bukan sekadar soal tutup buku keuangan, tapi soal harkat martabat para pelayan publik. Cari jalan, temukan solusi, dan kembalikan senyum para ASN. Jangan biarkan Kupang terus diwarnai nestapa, waktunya bangkit dan wujudkan janji!. (Redaksi Suara Harapan)


































