Majalah Suara Harapan – Kehadiran Koperasi Konsumen Desa Merah Putih (KKDMP) di tengah masyarakat desa memicu berbagai tanggapan.
Salah satu catatan kritis datang dari tokoh masyarakat sekaligus pengamat, Daniel Hurek. Ia mengingatkan agar kehadiran koperasi baru ini tidak terjebak dalam nostalgia Koperasi Unit Desa (KUD) masa lalu yang kini mayoritas tidur terlelap.
Minggu, 24 Mei 2026, dalam sebuah wawancara mendalam bersama Media Suara Harapan, Daniel Hurek membedah tantangan mendasar yang akan dihadapi KKDMP, mulai dari skala pasar yang mini hingga minimnya peredaran uang di level akar rumput.
Menurut Daniel, konsep KKDMP sekilas mengadopsi pola KUD yang dulu berfokus menjadi agen pengumpul hasil bumi. Namun, sejarah mencatat bahwa sebagian besar KUD gagal bertahan.
Silakan berkaca dari situ (KUD), tetapi kacanya mungkin agak pecah, ujar Daniel analogis, mengingatkan agar pengelola koperasi baru tidak menutup mata dari kegagalan masa lalu.
Ia menegaskan bahwa KKDMP nantinya harus siap bersaing secara sehat di lapangan dengan lembaga keuangan yang sudah mapan di desa, seperti koperasi kredit (kopdit) dan sejenisnya.
Namun, tantangan terbesarnya bukan sekadar persaingan, melainkan eksistensi pasar itu sendiri.
Dengan lugas, Daniel mempertanyakan rasionalitas ekonomi dari pendirian koperasi di setiap desa tanpa melihat potensi pasarnya. Logika ekonomi sederhana mendikte bahwa koperasi butuh ekosistem transaksi yang hidup untuk bisa bertumbuh.
Kalau masing-masing desa ada koperasinya, pasarnya di mana sih? Jika satu desa kecil penduduknya hanya 500 atau 1.000 orang, lalu Desa B 1.000 orang, Desa C 500 orang, pertanyaannya: siapa yang jual apa, dan siapa beli apa? cecar Daniel.
Menurutnya, kehadiran KKDMP di tengah kapasitas pasar yang sangat terbatas justru menjadi alarm bahaya. Tanpa strategi yang matang, koperasi ini dikhawatirkan akan layu sebelum berkembang akibat sepinya transaksi.

































