SO’E, SH – Film dokumenter yang mengisahkan Mateos Anin, penjaga alam gunung Mutis, resmi diluncurkan pada Jumat (4/10) malam, di Aula Lopo Mutis, Desa Fatumnasi, Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Film berdurasi 23 menit ini menyoroti pentingnya menjaga kelestarian alam gunung Mutis yang telah menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat selama berabad-abad.
Film ini menggambarkan bagaimana masyarakat setempat hidup harmonis dengan alam sambil mempertahankan tradisi mereka. Sosok Mateos Anin diangkat sebagai penjaga alam dan budaya, yang terus berupaya melestarikan warisan leluhur di tengah arus globalisasi.
Sutradara film, Gilang Akbar, menyatakan bahwa film ini bertujuan untuk memvisualisasikan nilai-nilai budaya dan ekologi di sekitar gunung Mutis.
“Lewat Bapak Mateos Anin, kita belajar bahwa melestarikan budaya dan alam tidak mengenal batas usia. Beliau telah lama berjuang mempertahankan budaya lokal di era modern ini,” kata Gilang.
Film ini juga menggambarkan tantangan yang dihadapi masyarakat Fatumnasi akibat kerusakan alam, termasuk kesulitan dalam mendapatkan madu liar karena degradasi hutan. Mateos Anin dan warga pun beralih ke penangkaran lebah sebagai solusi.
Pembuatan film ini didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia serta LPDP melalui Dana Indonesiana, dengan tujuan mendokumentasikan kekayaan budaya di Nusantara.

Pose bersama usai peluncuran film dokumenter Mateos Anin
Gilang berharap film ini dapat ditayangkan di sekolah-sekolah untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga lingkungan dan budaya.
Mateos Anin mengungkapkan rasa terima kasih kepada tim produser yang telah mengangkat kehidupan masyarakat Fatumnasi ke dalam film. “Semoga film ini menginspirasi generasi muda untuk melestarikan budaya dan menjaga alam,” ujarnya.
Produser Sepryanus Boimau menekankan bahwa film ini merupakan pesan penting bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih mencintai budaya mereka sendiri dan menjaga alam. Pelestarian Gunung Mutis, termasuk hutan bonsai yang semakin terancam, memerlukan kesadaran dan aksi nyata dari masyarakat lokal serta pengunjung.
Peluncuran film ini disambut dengan antusias oleh peserta. Mereka mengapresiasi upaya pelestarian yang ditampilkan dalam dokumenter tersebut. (*)


































