Majalah Suara Harapan – Dalam dialog bersama warga di kecamatan Amarasi, Saya mengutarakan kekuatan sebuah daerah tidak diukur dari seberapa megah perguruan tingginya.
Kekuatan sejati lahir dari fondasi PAUD, SD, SMP, SMA. Di sanalah karakter ditempa, nalar dibangun, dan masa depan dirancang.
Kita selama ini keliru membingkai pendidikan sebagai perburuan nilai dan ijazah. Padahal, nilai bisa terlupakan dalam semalam, tetapi ilmu yang dipahami akan menetap seumur hidup.
Saya selalu mengatakan: jangan tunjukkan ijazah Anda kepada saya. Tunjukkan bagaimana ilmu itu menciptakan kesejahteraan. Jika setelah bertahun-tahun sekolah seseorang hanya bolak-balik melamar pekerjaan tanpa mampu menciptakan peluang, maka ada yang salah dalam sistem kita.
Kita sering menyebut diri miskin. Sesungguhnya kita miskin pengelolaan, miskin inovasi.
Lihatlah kelor yang tumbuh di halaman rumah kita. Di dunia, ia dikenal sebagai “pohon ajaib”, Moringa oleifera. Kandungan gizinya luar biasa, pasar global terbuka lebar, dan ia tidak butuh banyak air.
Namun berapa banyak dari kita yang serius mengolahnya? Bayangkan bila satu desa menanam sepuluh hektare kelor dengan jarak tanam teratur, siap dipanen mesin, lalu diolah menjadi tepung, kapsul, pakan ternak, bahkan produk ekspor. Dari situ ekonomi rakyat bergerak.
Saya membayangkan suatu hari Nusa Tenggara Timur menjadi pusat produksi kelor. Bukan sekadar kebun, tetapi ekosistem industri yang utuh. Kesejahteraan itu bukan mimpi, ia lahir dari cara berpikir yang berani mengubah kebiasaan.
Akhirnya, kita tidak miskin karena tak memiliki apa-apa. Kita miskin karena belum cukup mengolah apa yang kita miliki. Ketika ilmu dikejar bukan demi ijazah tetapi demi daya cipta, ketika potensi lokal diolah dengan disiplin dan visi, maka kemiskinan bukan lagi takdir.
Perubahan dimulai dari kesadaran, dilanjutkan keberanian, dan diwujudkan dalam kerja nyata. Generasi mendatang harus mewarisi kemakmuran, bukan keluhan.*Sipers



































