Majalah Suara Harapan – Albert Lololau kembali mengirim surat cinta kedua dan mempertanyakan apakah para pendeta telah mempertimbangkan kebutuhan jemaat yang sedang mengalami krisis, dan apakah manfaat langsung yang didapat dari wisata rohani tersebut.
Adapun poin-poin kritis yang disampaikan
Kurangnya Empati/Hati Nurani, Lololau mengkritik para pendeta karena melakukan wisata rohani mewah saat masyarakat/jemaat sedang menghadapi berbagai krisis ekonomi dan sosial.
Albert mempertanyakan manfaat konkret dan peningkatan kesejahteraan yang akan didapat oleh masyarakat/jemaat sebagai hasil dari perjalanan rohani para pendeta tersebut.
Menurutnya wisata rohani hanya memberikan “kepuasan lahiriah” karena dapat mengatakan “saya sudah ke sana,” tanpa membawa dampak spiritual atau material yang signifikan bagi jemaat.
Ia menyoroti kontras antara para pendeta yang bercerita tentang keindahan luar negeri, sementara jemaat kesulitan karena krisis yang mereka hadapi.
Mantan DPRD ini berpendapat bahwa yang lebih pantas dan patut untuk berwisata adalah Penatua/Diaken yang melayani jemaat setiap hari dengan setia, bukan para pendeta.
Catatan Albert untuk Perbaikan
Albert berharap agar program “Wisata ke Luar Negeri” untuk tahun-tahun mendatang diganti dengan Program-Program Pemberdayaan Ekonomi Jemaat (misalnya untuk Perempuan GMIT, Pemuda GMIT, dll.).
Menurut Lololau, tujuannya adalah agar program tersebut dapat langsung menyentuh kebutuhan jemaat, meningkatkan tingkat kesejahteraan mereka.
Pesan yang Albert Lololau kirim merupakan bentuk pengawasan dan aspirasi yang kuat dari masyarakat terhadap penggunaan dana oleh tokoh agama, terutama dalam konteks penderitaan atau krisis ekonomi yang dialami oleh umat/jemaat.


































