Majalah Suara Harapan – Ruang virtual yang seharusnya menjadi jembatan ilmu, mendadak berubah menjadi panggung yang menyesakkan.
Sebuah video rekaman perkuliahan daring di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang mendadak viral pada Rabu (22/4), memicu badai kritik yang mengarah pada satu titik etika seorang pendidik.
Dalam potongan video tersebut, absensi kelas gabungan semester 4 (Kelas I dan J) yang biasanya formal, berubah tegang.
Jeheskiel Saudale, M.PAK, dosen yang memimpin kelas melalui aplikasi Zoom, diduga melontarkan kalimat yang jauh dari kesan akademis. Kata-kata “manusia bodoh” hingga “binatang” meluncur saat para mahasiswa mencoba merespons kehadiran mereka.
Dr. Harun Y. Natonis, pendiri sekaligus mantan Rektor IAKN Kupang, tak mampu menyembunyikan keprihatinannya.
Baginya, setiap jengkal tembok kampus ini didirikan dengan tetesan doa dan dukungan besar dari gereja-gereja, termasuk GMIT dan GGS.
“Kampus ini satu-satunya yang berciri keagamaan di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Nilai-nilainya harus benar-benar dijaga.
Kata ‘bodoh’ itu haram di dunia akademik, apalagi keluar dari mulut seorang pengajar yang seharusnya menjadi teladan,” tegas Harun dengan nada getir.
Harun mengingatkan kembali pada fondasi yang ia letakkan dulu: Galatia 5 tentang Buah-Buah Roh. Kasih, kesabaran, dan kelembutan seharusnya bukan sekadar teks yang dihafal, melainkan napas dalam interaksi antara dosen dan mahasiswa.
Harun mempertanyakan apakah visi perubahan mental di IAKN Kupang benar-benar meresap ke dalam jiwa para civitas akademika, ataukah hanya terjebak menjadi slogan di baliho-baliho kampus.
“Kita harus evaluasi. Apakah pembinaan rohani benar-benar berdampak? Kalau kejadian ini muncul lagi, berarti ada yang salah dalam proses pembinaan kita selama ini,” ujarnya retoris.
Keprihatinan Harun bukan tanpa alasan. Ia membeberkan fakta pahit bahwa dugaan perilaku serupa oleh dosen yang sama sebenarnya pernah terjadi di masa lalu.
Kala itu, sang dosen bahkan telah diminta membuat surat pernyataan di atas materai untuk tidak mengulangi perbuatannya.
Namun, tampaknya berulang. “Dulu pernah ada mahasiswa mengadu. Sekarang muncul lagi. Ini tidak bisa dibiarkan,” kata Harun mendesak pimpinan kampus saat ini, Rektor Dr. I Made Suardana, untuk mengambil tindakan
Harun bahkan menyarankan agar ada sanksi tegas berupa penonaktifan sementara dari kegiatan mengajar agar menjadi efek jera.


































