Majalah Suara Harapan – Udara di sekitar Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang diprediksi akan terasa sedikit berbeda pada Senin pagi mendatang. Bukan karena riuh rendah jadwal perkuliahan biasa, melainkan karena getaran keresahan yang terkumpul dalam barisan Aliansi Mahasiswa Peduli IAKN.
Sebuah surat pemberitahuan aksi dengan nomor 001/FMN-KPG/IAKN/XII/I/2026 telah dilayangkan. Isinya lugas: mahasiswa akan turun ke jalan. Titik kumpulnya dimulai dari cabang masuk kampus hingga berakhir di depan gedung Rektorat.
Namun, ini bukan sekadar tentang orasi dan poster yang diangkat tinggi-tinggi. Bagi Israel Balang, sang Koordinator Umum, aksi ini adalah sebuah “pertanggungjawaban moral”. Ada luka yang dirasakan mahasiswa atas peristiwa yang belakangan ini menyita perhatian publik—sebuah insiden yang mereka sebut sebagai bentuk penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan martabat institusi.
”Kami mencintai institusi ini,” ungkap mereka secara tersirat dalam dokumen tersebut. Aksi yang direncanakan pada 27 April 2026 ini merupakan upaya mahasiswa untuk “membasuh wajah” almamater mereka yang sedang menjadi bahan perbincangan luas.
Mereka berkomitmen bahwa gerakan pukul 09.00 WITA itu akan berjalan dengan tertib dan damai. Ini adalah aksi intelektual, di mana nalar lebih dikedepankan daripada urat saraf.
Mereka menuntut penjelasan, mereka menuntut martabat, dan yang paling penting, mereka menuntut perubahan ke arah yang lebih baik.
Kini, bola panas berada di tangan pihak Rektorat IAKN Kupang. Akankah gerbang kampus terbuka lebar untuk dialog yang konstruktif, ataukah aksi ini hanya akan menjadi angin lalu di koridor-koridor gedung beton tersebut?
Satu yang pasti, pada Senin nanti, mata publik akan tertuju ke arah jalan masuk kampus IAKN. Di sana, dedikasi mahasiswa terhadap institusinya akan diuji melalui langkah kaki dan lantangnya suara yang menuntut kehormatan manusia dikembalikan ke tempatnya yang paling mulia.


































