Menembus Batas Duka: Cerita di Balik Empat Roda Kemanusiaan Usman Husin
Raungan mesin mobil ambulans itu memecah keheningan Bandara El Tari Kupang. Siang itu, Kamis, 21 Mei 2026, bukan hanya satu, melainkan tiga armada ambulans berlogo Usman Husin berjejer rapi.
Mereka punya satu misi sakral yang sama, menjemput kepulangan tiga anak asuh bumi Flobamora yang telah berpulang di tanah rantau.
Hari itu menjadi saksi betapa tingginya intensitas pelayanan sosial yang digagas oleh Usman Husin, Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ketika duka menyergap keluarga, jarak kerap menjadi dinding pemisah yang kejam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, lewat armada-armada inilah, dinding itu perlahan runtuh.
Tiga jenazah yang tiba dengan burung besi hari itu adalah almarhum Mengki Aldani Tuke, almarhum Fatris Manase Tasuib, dan almarhum Verdi John Ximenes. Begitu peti diturunkan dari pesawat, para sopir ambulans dengan sigap memindahkan mereka ke dalam kabin mobil yang sejuk.
Dua armada bergerak beriringan membelah jalur Trans-Timor menuju arah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), tepatnya ke Desa Konbaki di Kecamatan Polen. Sementara satu armada lainnya terus melaju lebih jauh, menembus kabut menuju Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Bagi masyarakat NTT, biaya memulangkan jenazah dari Kota Kupang ke kampung halaman di pedalaman bukanlah perkara murah. Seringkali, isi dompet yang terkuras habis karena biaya rumah sakit membuat keluarga tak berdaya untuk sekadar menyewa mobil jenazah.
Di sinilah, empat unit ambulans gratis yang disediakan oleh kakak kandung Mantan Menteri Perindustrian RI, Saleh Husain, ini hadir sebagai juru selamat di tengah kedukaan.
Menariknya, jejak kemanusiaan ini bukanlah panggung politik baru. Layanan ambulans gratis ini sudah mengaspal jauh sebelum Usman Husin terpilih duduk di kursi empuk DPR RI Komisi IV.
Roda-roda ambulans ini telah menempuh ribuan kilometer jalanan NTT; mulai dari daratan Pulau Timor seperti Kota dan Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Belu dan Malaka, hingga harus menyeberangi lautan menuju Kabupaten Rote Ndao dan pulau-pulau sekitarnya.
Di kalangan masyarakat, legislator PKB ini memang dikenal punya gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia tercatat sebagai salah satu wakil rakyat asal NTT yang paling rajin turun gunung menembus pelosok, mendengarkan keluh kesah, dan berdialog langsung dengan konstituennya tanpa sekat.
Setiap kali kakinya melangkah ke desa-desa, Usman hampir selalu membawa buah tangan yang nyata bagi urat nadi perekonomian warga. Mulai dari Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan), pupuk, bibit tanaman, hingga bantuan sektor bahari seperti kapal nelayan, alat tangkap, dan bibit ikan air tawar serta ternak.
Bagi Usman Husin, politik tampaknya bukan sekadar tentang regulasi dan angka-angka di atas kertas meja rapat Jakarta. Lewat deru mesin ambulans yang mengantar jenazah hingga ke gerbang desa-desa terpencil, ia sedang menunjukkan bahwa politik pada hakikatnya adalah tentang merawat kemanusiaan hingga tuntas.

































