Majalah Suara Harapan – Video absensi seorang dosen berinisial JS dalam kuliah daring di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang beredar luas. Suaranya sangat jelas. Dosen itu menyapa para mahasiswa dengan sebutan ;”manusia bodoh dan binatang”.
Sangat menyedihkan. Menurut saya, ini sudah masuk wilayah kekerasan verbal dalam dunia pendidikan kita. Bagaimana mungkin dosen justru menggunakan ruang kelas untuk menghina dan mereproduksi penindasan. Setelah nonton video itu sepintas, saya langsung meneruskan video itu ke Rektor IAKN Kupang, Dr. I Made Suardana, M.Th.
Saya berpesan agar video yang viral itu diklarifikasi ke publik. Tidak patut para mahasiswa dipanggil binatang atau manusia bodoh. Jika benar, perlu ada sanksi kepada dosen tersebut. Reputasi kampus harus dijaga. Sebelumnya saya memang telah beberapa kali diskusi dengannya untuk kemajuan kampus.
Respon Pak Rektor sangat cepat: “Bapa, mohon maaf, terima kasih Bapa, jujur, saya sangat malu dengan peristiwa ini. Kami segera melakukan pemanggilan dan BAP serta melanjutkan ke dewan etik kelembagaan, untuk tindak lanjut pemberian sanksi pembinaan. Langkah selanjutnya kami secara kelembagaan akan memohon maaf kepada masyarakat secara langsung dalam pemberitaan resmi. Hal tersebut menjadi perhatian yang sangat serius bagi kami.
Mohon maaf Bapa, kami akan segera perbaiki.” Dan setelah itu, Pak Rektor dan tim telah melakukan klarifikasi dan permintaan maaf ke publik. Saya menyampaikan terima kasih atas respon cepat tersebut. Respon cepat seperti ini sangat kita harapkan dari semua institusi publik. Ini pelajaran penting bagi dunia pendidikan kita. Bahwa relasi dosen dan mahasiswa bukanlah relasi kuasa untuk merendahkan, tetapi menjadi mitra belajar.
Karena itu wajib saling menghormati satu sama lain. Menurut informasi kekerasan verbal dari dosen itu itu sering terjadi. Saatnya dihentikan. Sebab kekerasan verbal yang terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan mental mahasiswa, menurunkan kepercayaan diri, memicu kecemasan, bahkan membuat mereka merasa tidak layak berada di ruang akademik.Kita semua berharap agar kampus wajib menjadi ruang di mana mahasiswa yang datang dari latar belakang apa pun, termasuk keluarga sederhana, bisa berdiri sama tegak dengan mahasiswa lain. Mari terus berikhtiar agar menjadi lebih baik. Kita bisa.


































