Majalah Suara Harapan – Di Tengah persawahan disertai terik matahari yang menyengat, hamparan warna keemasan membentang luas di Desa Mata Air.
Selasa, 28 April 2026 suasana persawahan tepatnya kelompok tani Dahulu Rasa, Desa Mata Air tampak lebih hidup dari biasanya.
Gelak tawa para petani pecah mempresentasikan hasil panen yang telah dikemas menjadi produk asli beras dahulu rasa
Kelompok Tani Dahulu Rasa bukanlah “pemain baru” di Kabupaten Kupang- NTT. Sejarah mencatat, jejak kaki para petani di sini sudah bermula sejak tahun 1964.
Wellem Nifu, Sang Ketua Kelompok, mengisahkan dengan bangga bagaimana lahan ini bertransformasi menjadi sawah irigasi.
”Awalnya hanya 82 hektare dengan 64 anggota perintis,” kenang Wellem.
Yang unik, Dahulu Rasa adalah simbol keberagaman Nusa Tenggara Timur yang sesungguhnya. Kelompok ini lahir dari tangan-tangan dingin para perintis yang berasal dari Suku Sabu, Rote, dan Timor.
Perbedaan suku bukan menjadi sekat, melainkan kekuatan yang membuat kelompok ini bertahan hingga kini berkembang menjadi 165 anggota dengan total lahan mencapai 115 hektare.
Dukungan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir diakui sangat membantu napas pertanian di Desa Mata Air. Kehadiran traktor roda empat dan mesin panen (combine) telah mengubah wajah pertanian dari yang dulunya tradisional menjadi lebih efisien.
Namun, tantangan belum sepenuhnya usai. Di balik suksesnya panen raya ini, terselip sebuah harapan besar untuk masa depan.
”Kami punya mimpi untuk mencapai Musim Tanam Ketiga (MT3) demi mendukung swasembada pangan nasional,” ujar Wellem.
Untuk mewujudkan mimpi itu, para petani masih berjuang melawan kendala infrastruktur.
Saat ini, mereka sangat membutuhkan pembangunan saluran irigasi permanen sepanjang 8.000 meter. Saluran yang ada saat ini sebagian besar masih berupa tanah, yang mengakibatkan distribusi air tidak maksimal untuk menjangkau seluruh area di musim kemarau.
Bagi para petani di Kelompok Dahulu Rasa, sawah adalah hidup. Dari 82 hektare menuju 115 hektare, dari cangkul menuju mesin, mereka terus membuktikan bahwa di tanah yang kering sekalipun, kesejahteraan bisa tumbuh jika dirawat dengan persatuan.


































